
Sebuah racikan kenikmatan sesaat, saat ini sedang dibuat di setiap pabrik. Tergulung rapih dalam selembar kertas kecil. Disatukan dalam sebuah dus kecil. Sebagian dus itu dimasukkan dalam kotak kecil dan di jual berkeliling.
Itulah sekelumit perjalanan dari gulungan kertas yang setiap hari orang-orang membakarnya. Mereka keluarkan kertas dari dompet mereka untuk mendapatkan gulungan kertas dari dus keci tadi. Lalu mereka hisap asapnya, sehingga merangsang otak untuk menjadikan tubuh nyaman, serta memberikan kesan untuk selalu mencoba lagi (kecanduan).
Peringatan jelas dari pemerintah yang tertera dalam dus, tak mereka hiraukan. Entah tahu atau tidak para penikmatnya bahwa benda ini dapat membunuh dirinya bahkan orang-orang di dekatnya. Kalaupun di beri tahu "merokok itu sangat berbahaya, bahkan sampai menyebabkan kematian", lalu mereka berdalih, "halllah, ngrokok nggak ngrokok ntar mati juga. ngapain takut!"
Bagaimana kalo situasi seperti tadi terjadi pada anda??? sanggahan apalagi atau (sok dewasanya) nasehat apalagi yang akan anda berikan. Bingung nggak tuh. karena saya pernah mengalami ini. Pikirkan apa yang akan anda katakan lagi!!!

Waktu itu saya tidak menyanggah, tidak pula memberi tambahan nasehat kepada perokok itu. Akan tetapi saya memberi contoh konkret (yaitu saya sendiri) dengan memberikan ungkapan, "kalo saya sich lebih suka menjalani hidup sehat, memang sich nanti saya akan mati juga sebagaimana halnya anda yang suka merokok. Kasarnya saya lebih suka menunggu kematian dalam keadaan sehat, dari pada sakit-sakitan. Kasihan keluarga yang harus mengeluarkan dana terus gara-gara saya sakit!"
Kemudian akhir-akhir ini muncul sebuah kontrofersi yang menggetarkan jagat perokok-an di Indonesia. Yang membuat para penikmat yang telah melanglang buana di dunia perokok-an merasa gerah, karena MUI mengeluarkan fatwa Haram. Kontan saja beberapa aksi penolakan bergema di se-antero Indonesia, pun aksi mendukungan terhadap fatwa tersebut(kalo saya pendukung lho!).
Yang sedikit terpercik dalam benak saya adalah kenapa sich harus nolak fatwa MUI tersebut, toh itu demi kebaikan kita kok.
Kenapa pula harus nolak jika alasan "ntar pabrik rokok pada tutup, terus banyak karyawan di pecat." Lihat contoh bir yang diharamkan, apakah pabriknya tutup???"
Kenapa juga harus nolak, perintah tuhan yang jelas-jelas tertera dalam Kitab Suci saja, sering kita langgar. (Hayo siapa yg sholat lima waktu-nya bolong-bolong).
Jangan jadikan permusuhan hanya karena hal yang kecil ini. Ini hanya pendapat pribadi berdasar pengalaman saya di masa hidup saya saat ini dan sebelumnya.
Write by CyclopX
(Born to be Different)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar